Pada pertengahan dekade 1950-an berkembang jenis musik rock ’n roll
yang dipopulerkan oleh Bill Haley and The Comet dan Elvis Presley di
Amerika. Melalui medium kepingan piringan hitam, radio, dan film, musik rock ’n roll
masuk ke Indonesia dan menjadi populer di kalangan anak-anak muda
golongan menengah yang tinggal di kota besar yang pada waktu itu
jumlahnya sangat terbatas. Dalam perkembangannya, pada dekade 1960-an
pengaruh musik rock ’n roll diperkuat dengan masuknya grup-grup
musik asal Inggris seperti Rolling Stone, The Beatles, dan sebagainya
yang kemudian dikenal sebagai gerakan musik British Invasion.
Pada awal dekade 1960-an, anak-anak yang tinggal di kota besar yang
mampu untuk membeli peralatan musik mulai membentuk grup musik dan
menyanyikan lagu-lagu dari grup musik yang menjadi panutannya yang
mereka dengar dari kepingan piringan hitam dan radio seperti Everly
Brothers atau pun irama jenis baru (rock ’n roll) dari The
Beatles. Los Suita, Eka Djaya Combo, Dara Puspita dan Koes Bersaudara
adalah beberapa grup musik yang melakukan hal ini. Menjelang pertengahan
dekade 1960-an grup-grup musik itu mulai menciptakan dan menyanyikan
lagu sendiri yang jelas terpengaruh oleh lagu-lagu asing yang sering
mereka dengarkan. Pertunjukan musik langsung pun banyak digelar tetapi
tidak terlalu besar volume intensitasnya, karena hanya diselenggarakan
pada suatu tempat tertentu atau ketika para tetangga atau siapa saja
sedang ada hajatan atau semacamnya.
Seperti perkembangan dalam seni pertunjukan lainnya (teater dan tari)
yang sangat dipengaruhi oleh faktor non-seni yang terdiri atas faktor
politik, sosial, dan ekonomi, perkembangan musik rock di Indonesia tidak
terlepas dari beberapa faktor tersebut. Perkembangannya sejalan dengan
perkembangan situasi politik, sosial, dan ekonomi tertentu yang terjadi
di Indonesia. Ketiga faktor inilah yang sangat menentukan hadirnya
sebuah genre atau bahkan bentuk seni pertunjukan dalam kehidupan
masyarakat. Ketiga faktor tersebut kadang-kadang faktor ekonomi yang
dominan menentukan perubahan, faktor politik yang menonjol, dan
terkadang faktor sosial atau bahkan kerap terjadi perpaduan antara dua
atau ketiga faktor tersebut
Pada awalnya situasi dan kondisi Indonesia kondusif bagi perkembangan
musik rock, tetapi kondisi itu berubah menjadi non-kondusif pada masa
Demokrasi Terpimpin. Nada keberatan terhadap musik rock ini dilihat
secara politis melalui kepentingan nasionalisme; Musik rock dikatakan
sebagai bagian dari “Imperialisme Kebudayaan”.
Pernyataan imperialisme kebudayaan ini dikemukakan oleh Bung Karno
dalam pidato ”Manipol Usdek” pada tanggal 17 Agustus 1959, yang kemudian
diputuskan oleh Dewan Pertimbangan Agung pada bulan September 1959
sebagai Garis-garis Besar Haluan Negara. Permusuhan terhadap musik rock
di Indonesia dimanipulasi pula oleh kepentingan PKI melalui Lembaga
Kesenian Rakyat (LEKRA), namun demikian lagu-lagu Barat masih bebas
untuk dimainkan hingga sampai tahun 1963 pemerintah mengeluarkan
Penetapan Presiden PP No. 11/1963 tentang larangan musik “ngak ngik
ngok”.
Musik rock menghadapi persoalan nyata akibat dikeluarkannya Penetapan
Presiden tersebut. Musik rock diberangus dan dianggap musik yang
merusak budaya bangsa. Konsekuensi logis dari Penetapan Presiden
tersebut, maka piringan-piringan hitam milik grup musik The Beatles, The
Rolling Stone, The Shadows, dan lain-lainnya serentak dimusnahkan
secara massal dan diberlakukan pelarangan impor bagi rekaman-rekaman
musik dari Barat. Siaran radio yang menyiarkan musik-musik Barat juga
dilarang, termasuk RRI. Pemuda berambut gondrong yang berpakaian dengan
memakai model Barat tidak luput menjadi korban razia para aparat
berwenang. Koes Bersaudara yang mengambil beat keras dalam landasan
musik yang mereka ciptakan ikut terkena paranoisme Orde Lama; mereka
sempat beberapa saat mendekam di balik terali besi penjara Glodok. Tidak
hanya Koes bersaudara, grup musik lainnya juga mendapat peringatan
untuk tidak membawakan lagu-lagu yang berirama
rock ’n roll,
grup musik itu di antaranya adalah Los Suita. Pihak Kejaksaan Tinggi
Jakarta mengeluarkan peringatan bahwa grup musik ini akan dibubarkan
jika masih menyanyikan lagu-lagu dari penyanyi Elvis Presley. Irama
Abadi, grup musik yang pernah diperkuat oleh Abadi Soesman sempat juga
ditegur oleh aparat Kodim ketika mereka pentas membawakan lagu-lagu dari
The Beatles.
Sumber